Beberapa hari yang lalu, gue berkesempatan buat pergi ke
tempat wisata "Kawah Putih" di Bandung. Yang bikin seru dari
jalan-jalan kali ini adalah karena gue pergi bareng temen-temen kampus gue.
Perjalanan kami mulai dipagi hari sekitar jam setengah delapan. Ditemani cuaca
yang sendu, kami berangkat naik bus yang udah disewa sebelumnya. Sepanjang
perjalanan hujan gak berhenti turun. Melintasi jalan tol Cipularang, kabut
datang dan lumayan menganggu jarak pandang. Tapi buat gue, yang notabennya
adalah orang kota, dan jarang banget ngeliat kabut, ini jadi pengalaman
tersendiri buat gue.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya gue
sampai di objek wisata “Kawah Putih”. Sesampainya disana gue bingung, katanya
“Kawah Putih” tapi sepanjang mata memandang gue gak lihat ada kawah. Eh
ternyata, kawahnya masih ada di atas gunung, dan kami harus naik kesana untuk
melihat “Kawah Putih” itu.
Gue pun bersama salah seorang temen gue langsung bergegas
buat beli tiket masuk ke sana. Harga tiketnya pun gak terlalu mahal, cukup
dengan Rp 28.000,- kita udah bisa masuk kesana. Buat naik ke kawah putihnya
ternyata kita bisa naik ontang-anting dengan biaya Rp 13.000,- yang udah
termasuk di biaya masuk tadi. Itu berarti kalo kita mau naik keatas tanpa
ontang-anting (naik kendaraan sendiri / jalan
kaki = hanya untuk orang-orang terkuat) kita hanya dikenai biaya
28.000-13.000 = Rp 15.000,-.
Perjalanan pun gue lanjutkan dengan naik ontang-anting. Kendaraan
ini semacam mobil bak terbuka, yang dikasih kursi dibelakngnya buat tempat
duduk penumpangnya. Naik kenndaraan ini parah banget, dari bawah sampe atas (kawahnya) cuma ditempuh kurang dari 5
menit, padahal jalannya itu adalah tanjakkan, dan jaraknya +- 1 km. Menurut salah
satu kesaksian temen gue yang duduk didepan, disamping pak sopir yang sedang
bekerja, pedal gasnya gak pernah dilepas sampai ditempat tujuan (kawah). Ini bener-bener parah banget. Gue
sebagai penumpang yang duduk dibelakang, lumayan ngeri karena selain jalan
menanjak, kanan kiri juga ada jurang yang lumayan dalam, sepanjang perjalanan
itu gue berdoa terus dalam hati supaya gak terjadi hal-hal yang gak diinginkan. Dan akhirnya gue pun sampai diatas (kawah), dengan selamat.
Disini udaranya bener-bener dingin
bingiitt. Gue pun gak menyia-nyiakan udara dingin ini. Gue duduk diem
dipinggiran kawah dan menikmati udara dingin ini. Tapi, gue hanyalah orang
biasa. Seperti orang-orang normal lainnya, apabila sudah mencapai objek wisata
tujuan, mereka lekas mengeluarkan kameranya dan berfoto ria. Gue pun melakukan
hal yang sama. Tapi sayangnya gue datang pas musim hujan. Jadi sejauh mata
memandang hanya ada kabut yang gue lihat. Dan ini adalah kondisi yang tidak
menguntungkan untuk berfoto, tapi gak apa-apalah kabut ini malah menjadi efek
tersendiri saat difoto.
Setelah puas menikmati udara dingin disana, sampai meler-meler (hidung mengeluarkan cairan yang bernama ingus), gue dan teman-teman lainnya bergegas turun kebawah dan pulang. Seperti naik keatas tadi, gue pun menaiki ontang-anting kembali untuk turun. Beuuhh, ngebutnya sama kaya tadi pas naik keatas. Tapi alhamdulillah gue dan yang lainnya selamat sampai dibawah. Dan jalan-jalan kali ini, gak akan pernah gue lupain.



EmoticonEmoticon